Sunday, October 21, 2018

KONSEP UANG DALAM EKONOMI ISLAM



Uang merupakan sesuatu yang diadopsi dari peradaban Romawi dan Persia. Ini dimungkinkan karena penggunaan dan konsep uang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Dinar merupakan mata uang emas yang diambil dari Romawi, sedangkan dirham adalah maya uang perak warisan peradaban Rusia. Dalam al-Qur’an dan Hadits, dua logam mulia ini telah disebutkan baik dalam fungsinya sebagai mata uang, sebagai harta dan lambang kekayaan yang disimpan. Dinar dan dirham diperoleh bangsa Arab dari hasil perdagangan yang mereka lakukan dengan bangsa-bangsa di seputaran jazirah Arab. Pada masa itu, sudah banyak mata uang asing masuk negeri Hijaz, mata uang itu digunakan hingga runtuhnya Khalifah Utsmaniyah di Turki pasca Perang Dunia I.
Uang kertas yang berlaku pada zaman sekarang disebut fiat money. Dinamakan demikian karena kemampuan uang untuk berfungsi sebagai alat tukar dan memiliki daya beli tidak disebabkan karena uang tersebut dilatarbelakangi oleh emas. Dahulu ketika dunia masih mengikuti standar emas memang benar uang dilatarbelakangi oleh emas, namun telah lama ditinggalkan oleh perekonomian dunia pada pertengahan dasawarsa 1930-an. Lalu bagaimana hukum uang kertas ditinjau dari sisi syariah? Ada yang berpendapat bahwa uang kertas tidak akan berlaku riba sehingga kalau ada orang berhutang Rp. 100.000, kemudian mengembalikan kepada pemberi hutang sebanyak Rp. 120.000 dalam tempo 3 bulan tidak termasuk riba. Mereka beranggapan bahwa yang berlaku pada zaman Nabi Muhammad SAW adalah uang emas dan perak, yang di haramkan tukar-menukar dengan kelebihan adalah emas dan perak, uang kertas tidak berlaku hukum riba padanya.
Jawaban sebenarnya dapat kita cari dari penjelasan bahwa mata uang bisa dibuat dari benda apa saja, sampai-sampai kulit unta kata Umar bin Khattab. Ketika benda tersebut telah ditetapkan sebagai mata uang yang sah, maka barang tersebut telah berubah fungsinya dari barang biasa menjadi alat tukar dengan segala fungsi turunannya. Jumhur ulama telah sepakat bahwa illat dalam emas dan perak yang diharamkan pertukarannya kecuali serupa dengan serupa, sama dengan sama adalah karena “tsumuniyyah”, yaitu barang tersebut menjadi alat tukar, penyimpanan nilai dimana semua barang ditimbang dan dinilai dengan nilainya. Ketika uang kertas telah menjadi alat pembayaran yang sah, kedudukannya dalam hukum sama dengan kedudukan emas dan perak yang pada waktu al-Qur’an diturunkan tengah menjadi alat pembayaran yang sah. Riba berlaku pada uang kertas, uang kertas juga diakui sebagai harta kekayaan yang harus dikeluarkan zakat dari padanya.
Ada dua alasan utama memegang uang dalam ekonomi Islam, yaitu motivasi transaksi dan berjaga-jaga. Spekulasi dalam pengertian Keynes, tidak akan pernah ada dalam ekonomi Islam, sehingga permintaan uang untuk tujuan spekulasi menjadi nol dalam ekonomi Islam. permintaan uang dalam ekonomi Islam berhubungan dengan tingkat pendapatan. Keperluan uang tunai yang dipegang dalam jangka waktu penerimaan pendapatan dan pembayaran. Besarnya persediaan uang tunai akan berhubungan dengan tingkat pendapatan dan frekuensi pengeluaran. Apabila seseorang menerima pendapatan dalam bentuk uang tunai dan dalam waktu bersamaan dikeluarkan juga secara tunai, maka tidak perlu memegang uang untuk tujuan transaksi, disini tidak ada interval waktu untuk menjembataninya.
Dalam hubungannya dengan kebutuhan pribadi, sesungguhnya persediaan uang tunai yang dipegang akan lebih besar dari proporsi dalam interval antara penerimaan dan pendapatan. Seseorang yang mendapat bayaran bulanan akan memerlukan persediaan uang tunai yang rata-rata lebih besar dibandingkan dengan seseorang yang mendapat bayaran harian, dengan asumsi bahwa perilaku konsumsi mereka sama. Motivasi berjaga-jaga muncul karena individu dan perusahaan menganggap perlu memegang uang tunai di luar apa yang diperlukan untuk transaksi, memenuhi kewajiban dan berbagai kesempatan tidak disangka untuk pembelian di muka. Jumlah uang tunai yang diperlukan dalam ekonomi Islam hanya berdasarkan motivasi untuk transaksi dan berjaga-jaga dan merupakan fungsi dari tingkat pendapatan. Pada tingkat tertentu di atas yang telah ditentukan zakat atas aset yang kurang produktif.

No comments:

Post a Comment