Monday, October 15, 2018

HALAL KONSUMSI PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM


Di dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu berhadapan dengan dua hal yang berlawanan, dimana kita diharuskan memilih salah satu diantara kedua hal tersebut, antara haq-batil, halal-haram serta baik-buruk. Setiap manusia yang hidup di dunia ini akan selalu melakukan aktivitas ekonomi terutama aktivitas konsumsi. Aktivitas konsumsi tidak akan pernah lepas dari kehidupan sehari hari. Aktivitas ini dilakukan atas dasar kebutuhan dan keinginan sesuai dengan tingkat pendapatan seseorang, semakin tinggi pula tingkat konsumsinya. Indonesia sebagai anggota ASEAN sangat berpotensi untuk dibanjiri barang-barang konsumsi. Membanjirnya barang-barang tersebut memang memiliki nilai positif bagi konsumen, dalam hal ini akan semakin banyaknya alternatif pilihan barang dan jasa dapat dikonsumsi. Namun demikian, di lain sisi apabila hal ini tidak disikapi secara bijaksana justru menumbuhkan budaya konsumtif pada masyarakat. Yang pada banyak kasus, perilaku konsumtif ini tidak didasarkan lagi pada teori kebutuhan (need), tetapi didorong oleh hasrat (desire) dan keinginan (want).
Konsumsi dalam Islam tidak dapat dipisahkan dari suatu peranan keimanan. Peranan keimanan menjadi tolak ukur yang penting karena keimanan memberikan cara pandang dunia yang cenderung mempengaruhi kepribadian manusia. Keimanan memberikan saringan moral dalam membelanjakan harta dan motivasi pemanfaatan sumber daya pendapatan untuk hal yang efektif. Saringan moral bertujuan menjaga kepentingan diri tetap berada dalam batas kepentingan sosial dengan mengubah preferensi individual menjadi preferensi serasi antara individu dan sosial, termasuk saringan dalam mewujudkan kebaikan kemanfaatan dapat mempengaruhi persepsi konsumen. Konsumsi dalam Islam memiliki batasan yang harus diperhatikan selain halal yaitu tidak secara berlebih-lebihan. Di dalam membelanjakan harta terutama dalam berkonsumsi harus dilakukan secara wajar, karena Allah tidak suka dengan sikap mubazir.
Dalam ekonomi Islam, konsumsi merupakan permintaan sedangkan produksi adalah penawaran. Perbedaan ilmu ekonomi konvensional dan ekonomi Islam dalam konsumsi terletak pada cara pendekatannya dalam memenuhi kebutuhan seseorang. Islam merupakan agama yang ajarannya mengatur segenap perilaku manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup. Begitu pula dalam masalah konsumsi, Islam mengatur manusia dapat melakukan kegiatan konsumsi yang membawa manusia berguna bagi kemaslahatan hidup. Syariat Islam menginginkan manusia mencapai kesejahteraan. Maslahah maknanya jauh lebih luas dari sekedar utility atau kepuasan dalam terminologi ekonomi konvensional. Di dalam teori ekonomi konvensional, konsumen diasumsikan selalu bertujuan untuk memperoleh kepuasan (utility) dalam kegiatan konsumsinya. Dalam konteks ekonomi, utilitas dimaknai sebagai kegunaan barang yang dirasakan oleh seorang konsumen ketika mengonsumsi barang. Kegunaan ini dirasakan sebagai sebuah rasa "tertolong" dari suatu kesulitan karena mengonsumsi barang tersebut.
Perilaku konsumsi menurut teori ekonomi konvensional tentunya tidak dapat diterima begitu saja oleh teori ekonomi Islam. Konsumsi Islami selalu berpedoman pada ajaran Islam. Di antara ajaran yang sangat penting berkaitan dengan konsumsi, misalnya perlu memperhatikan orang lain. Diharamkan juga bagi seorang muslim hidup dalam keadaan serba berkelebihan sementara ada tetangganya yang menderita kelaparan. Hal lain adalah tujuan konsumsi itu sendiri, dimana seorang muslim akan lebih mempertimbangkan mashlahah dari pada utilitas. Pencapaian suatu mashlahah merupakan tujuan dari syariat Islam (maqasid syariah), tentu harus menjadi tujaun dari kegiatan konsumsi. Ajaran Islam tidak melarang menusia memenuhi kebutuhan atau keinginannya selama dengan pemenuhan tersebut, martabat manusia bisa meningkat. Semua yang ada dimuka bumi ini diciptakan untuk kepentingan manusia namun manusia diperintahkan untuk mengonsumsi barang dan jasa yang halal dan baik saja secara wajar, tidak berlebihan.
Perilaku konsumsi dalam ekonomi Islam bertujuan untuk tercapainya aspek materiil dan aspek spritual dalam konsumsi. Dari kedua aspek tersebut akan tercapai dengan menyeimbangkan setiap muslim akan berusaha memaksimalkan nilai guna total dan nilai guna marjinal di dalam konsumsi, sehingga setiap Muslim akan berusaha untuk memaksimumkan nilai guna dari tiap-tiap barang yang di konsumsi yang akan menjadikan dirinya semakin baik dan semakin optimis dalam menjalani hidup dan kehidupan. Keimanan di dalam diri seseorang ketika menggunakan anggaran mengonsumsi mengantarkan kepada kesadaran bahwa harta hak orang lain harus didermakan, sehingga daya beli masyarakat menjadi merata yang berdampak kepada geliat ekonomi. Konsep konsumsi ekonomi konvensioanl tidak membedakan antara keinginan dan kebutuhan, ketika salah satu atau keduanya tidak dipenuhi, maka akan memiliki dampak yang sangat negatif. Konsumsi Islami juga dapat menjaga kesehatan seseorang karena dia tidak akan mengonsumsi kecuali makanan halal dan baik secara zat serta proses pembuatannya dengan tidak meninggalkan sisi kebersihan.

No comments:

Post a Comment