Sunday, October 14, 2018

GAMBARAN EKONOMI INDONESIA 2017





Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi ekonomi sangat tinggi, potensi yang mulai diperhatikan dunia international. Indonesia memiliki sejumlah karakteristik yang menempatkan negara Indonesia dalam posisi bagus untuk mengalami perkembangan ekonomi yang pesat. Selain itu, dalam beberapa tahun terakhir ada dukungan kuat dari pemerintah pusat untuk mengekang ketergantungan Indonesia pada ekspor komoditas (mentah), sekaligus meningkatkan peran industri manufaktur dalam perekonomian. Pembangunan infrastruktur juga merupakan tujuan utama pemerintah dan yang perlu menyebabkan efek multiplier dalam perekonomian.
Menurut Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) mencatat keadaaan ekonomi Indonesia pada tahun 2017 memburuk. Kenaikan tarif dasar listrik dalam setengah tahun terakhir meningkatkan inflasi menjadi 4,9% dari rata-rata tahunan 3,2%. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat sampai Agustus 2017, rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) gross ada di level 3,05%. Angka ini meningkat tipis dibandingkan dengan rasio NPL pada Juli 2017 sebesar 3.00%. defisit transaksi berjalan meningkat menjadi 1% GDP lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal IV tahun 2016 sebesar 0,9% GDP. Untuk tahun 2017 defisit transaksi berjalan akan meningkat pada posisi 1,8% GDP.
Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017 akan meningkat dari 2,4% GDP pada tahun 2016 menjadi 2,6% GDP pada tahun 2017. Itupun dengan asumsi penerimaan dari pajak tercapai, jika tidak maka defisit bisa berada di atas 3%. Sampai bulan Mei 2017, pemerintah telah mengambil 53% dari rencana utang untuk mengatasi defisit, penurunan penerimaan pendapatan negara dan utang jatuh tempo. Penjualan ritel yang merupakan faktor pendorong pertumbuhan ekonomi menurun tajam menjadi 4,6% sampai dengan Mei dibandingkan rata-rata pertumbuhan kuartal II 2016 sebesar 9,5%. Posisi cadangan devisa (Cadev) Indonesia akhir Juli 2017 tercatat USD 127,76 miliar, angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan posisi akhir pada bulan Juni 2017 yang sebesar USD 123,09 miliar.
Posisi cadangan devisa pada akhir bulan Juli 2017 cukup untuk membiayai 9,0 bulan impor atau 8,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka cadangan devisa bulan Juli berada di atas standar kecukupan international sekitar 3 bulan impor. Sejumlah indikator daya beli dan pengeluaran masyarakar sepanjang kuartal II 2017, tercatat terus mengalami perlambatan. Dugaan perekonomian yang lesu membuat masyarakat lebih memilih menyimpan uangnya di bank dari pada membelanjakannya. Hal ini terindikasi dari meningkatnya jumlah Dana Pihak Ketiga (DOK) yang mengendap di perbankan. Dana Pihak Ketiga merupakan simpanan pihak ketiga pada Bank Umum dan BPR yang terdiri dari giro, tabungan dan simpanan berjangka (deposito) dalam rupiah maupun valuta asing.
Berdasarkan catatan Bank Indonesia (BI), hingga Juni 2017 DPK yang dihimpun perbankan menjadi Rp. 4.991 triliun meningkat 10% jika dibandingkan periode yang sama tahun 2016 yang hanya sebesar Rp. 4.456,8 triliun. Peningkatan jumlah simpanan di bank mengindikasikan perilaku masyarakat terutama bisnis yang cenderung menahan ekspansi bisnisnya di tengah kelesuan ekonomi. Hal ini juga membuat para pelaku bisnis menahan diri menarik fasilitas kredit investasi yang ditawarkan perbankan. Target pajak pada tahun 2017 sangat mungkin tidak akan tercapai. Tanda-tanda tidak akan tercapainya target penerimaan pajak 2017 sudah tampak jelas pada semester I tahun 2017. Penerimaan pajak yang berasal dari pajak, kepabeanan dan bea cukai baru mencapai Rp. 571,9 triliun atau 38,2% dari target dalam APBN 2017 yang sebesar Rp. 1.498,9 triliun dan seharusnya sudah mencapai 50%.

No comments:

Post a Comment