Saturday, October 13, 2018

FILSAFAT ILMU DALAM PERSPEKTIF ISLAM VERSUS BARAT





Berbicara tentang filsafat, perlu diketahui terlebih dahulu bahwa filsafat merupakan induk dari segala disiplin ilmu pengetahuan kini berkembang sebagai bahan acuan, terutama di kalangan mahasiswa maupun pelajar walaupun masih banyak pandangan kontradiktif mengenai hal ini. Dikatakan sebagai induk ilmu pengetahuan, karena salah satu sumber ilmu pengetahuan pada masa pra-disiplin ilmu, pemikiran secara filsafat menjadi acuan untuk para pemikir visioner yang disebut sebagai seorang filosof atau banyak orang menyebut filsuf, seperti Plato, Socrates, Aristoteles, Phytagoras serta lainnya yang memiliki pemikiran berbeda-beda. Berpikir secara filsafat atau filosofis tidak lepas dari cara berpikir yang kini berkembang di kalangan mahasiswa, yakni kritis, analis dan menuntut pemikiran visionerIlmu dan manusia adalah dua realitas yang tidak dapat dipisahkan. Ilmu merupakan komponen terpenting dalam mendukung eksistensi manusia, karena secara kodrati manusia adalah hewan berpikir (khayawan an-natiq). Ilmu sebagai suatu realitas, namun juga dipengaruhi oleh cara pandang orang atas ilmu itu sendiri, kemudian dikenal sebagai paradigma. Ada beragam cara pandang atas ilmu meskipun dalam dirinya ilmu itu sebenarnya bersifat objektif. Paradigma itulah yang akan mengarahkan ilmu untuk dikembangkan. Dengan kata lain, ada secara as such (objektif) di satu sisi dan pandangan orang atas ilmu bersifat subjektif di sisi lain.
Keberadaan ilmuwan di dalam perkembangan keilmuan Islam mendapat dukungan negara, bahkan negara menjadi salah satu inspirator munculnya sikap ilmiah dalam mengembangkan ilmu. Perkembangan keilmuan Islam di stimulasi oleh pernyataan dalam al-Qur’an untuk berpikir tentang alam semesta, misalnya terkait penciptaan alam semesta, fenomena turunnya hujan, penciptaan manusia dan lain sebagainya. Tampak jelas cara Islam menempatkan wahyu sebagai sumber, sekaligus sarana yang sangat penting dalam ilmu pengetahuan. Karakter keilmuan dalam Islam memang khas, berbeda dengan karakter keilmuan Barat yang hanya mendasarkan pada rasio dan empiris. Intuisi dan wahyu dalam Islam menjadi bagian tidak terpisahkan di dalam ilmu. Karakter keilmuan memberikan warna perkembangan keilmuan yang ada. Keilmuan Barat bersifat pragmatis materialistis kering dan refleksi atas nilai bersifat spiritual, sedangkan keilmuan di dalam Islam sangat sarat dengan spiritualitas bahkan ilmu dijadikan jalan untuk memahami dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Epistemologi keilmuan Barat bersifat pragmatis materialistik tentu tidak lepas dari pandangan ontologis atas ilmu yang tidak mengakui adanya realitas yang metafisik.
Sesuatu dikatakan sebagai sebuah ilmu pengetahuan apabila memenuhi dari tiga aspek, yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi. Di dalam filsafat ilmu, ketiga aspek ini disebut dengan metode ilmiah, yaitu suatu cara atau prosedur untuk mengukur sebuah ilmu pengetahuan. Apabila aspek ontologi berbicara tentang hakikat dari sebuah ilmu, aksiologi berbicara tentang fungsi sebuah ilmu dan epistemologi membahas sebuah teori ilmu (the body of knowledge). Ekonomi Islam memiliki landasan aspek epistemologis layaknya sebagai disiplin ilmu. Epistemologi ekonomi Islam mengkaji sumber-sumber dari hukum ekonomi Islam, metodologi dan validitasnya secara ilmiah. Pembahasan filosofis untuk ilmu ekonomi Islam terdiri atas dimensi dari ontologis, epistemologis dan aksiologis. Pada aspek ontologis terlihat bahwa tidak ada alasan untuk menolak eksistensi ekonomi Islam sebagai sebuah ilmu. Substansi rumusan tercermin dari statemen yang menyatakan bahwa ilmu ekonomi Islam adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dalam rangka memenuhi kebutuhannya.
Kajian aspek epistemologi dalam khazanah keilmuan Islam masih sangat memerlukan pengembangan dan pembahasan. Epistemologi seringkali menjadi materi terlupakan di dalam proses pengembangan keilmuan Islam, padahal aspek epistemologi bagian dasar, akar dan awal suatu ilmu. Epistemologi yang keliru akan merumuskan suatu faham ilmu yang keliru dan menyertakan konsep yang keliru pula. Filsafat dikenal sebagai mother scientiarium, yaitu induk dari segala ilmu. Filsafat selain keberadaannya mendahului ilmu sekaligus meletakkan dasar kuat bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Filsafat dikatakan sebagai induk dari segala ilmu, selain dasar alasan historis juga dikarenakan kajian filsafat memiliki sifat mendasar atau mengakar yang tidak lain merupakan suatu pencarian abadi tehadap kebenaran paling hakiki. Peran kajian filsafat ilmu pengetahuan memiliki nafas untuk terus mengalami perkembangan.
Memahami filsafat akan sangat luas hamparan aliran pemikiran yang induknya berasal dari zaman Yunani Kuno, karena jiwa bangsa Yunani tidak dibatasi oleh kekuasaan absolut raja dan kekuasaan pendeta mengendalikan agama, negara dan segala bentuk dalam kehidupan. Dari hal tersebut, dapat dipahami bahwa pemikiran filsafat memiliki hubungan erat dengan aspek lainnya, menjelaskan kondisi kultural menjadi akar tumbuhnya tiap aliran pemikiran. Pangkal kondisi ini adalah budaya Yunani Kuno yang memunculkan tradisi berpikir bebas terlepas dari belenggu dominasi otoritas eksternal. Ilmu dalam sejarah perkembangannya tidak dapat dikatakan terlepas dari peranan filsafat setiap praktik keilmuan selalu membutuhkan landasan filosofis khususnya dalam hal keberadaan filsafat ilmu. Proses maupun hasil dari kegiatan keilmuan apapun sangat ditentukan oleh landasan dari filosofis menjadi kerangka, memberi arah dan corak dari keilmuan yang dihasilkan. Dapat dikatakan bahwa landasan filosofis dari praktik keilmuan yang memuat asumsi dasar, paradigma keilmuan atau cara pandang terhadap ilmu menjadi suatu landasan dalam melakukan pertimbangan untuk menjalani setiap langkah keilmuan.
Kekhasan dari filsafat Islam mempengaruhi karakter dalam dunia keilmuan. Islam sebagai latar teologis tentu saja tidak dapat terlepas dari keberadaan dogma yang dianggap fundamental. Al-Qur’an yang notabene merupakan wahyu dalam filsafat Islam berusaha dirasionalisasikan agar membumi dan mampu dikomunikasikan terhadap manusia itulah fungsi akal manusia (al-aql). Dalam Islam sangat berimpitan dengan keberadaan al-qalb dalam proses memperoleh pengetahuan dan pemahaman terhadap dalil-dalil agama. Perubahan pemahaman al-aql setelah masuk pengaruh filsafat Yunani memahami al-aql dengan arti sama sebagai nous. Dari al-qalb yang mengarahkan pada suatu penghayatan bergeser pada nous dipahami sebagai daya berpikir yang terkonsentrasikan pada fungsi rasio manusia. Hal tersebut kemudian menyebabkan ilmu pengetahuan mampu berkembang dengan pesat di dalam tradisi tanpa mengabaikan Islam sebagai agama. Latar epistemologi dalam filsafat Islam memiliki perbedaan sangat mendasar dibandingkan dengan filsafat Barat. Karakteristik pemikiran Barat sangat teguh terhadap keberadaan pada pembaharuan sesuai jiwa kebebasan bang Yunani, sekaligus rapuh berlandaskan pada sejarah perdebatan yang berlangsung sejak berabad-abad silam dan kemudian menghasilkan berbagai aliran pemikiran yang bersifat dialektis dan tidak pernah sampai pada suatu bentuk akhir.
Filsafat Islam memiliki keteguhan kuat apabila dibandingkan dengan gerakan perkembangan pemikiran filsafat Barat, karena aliran dalam filsafat Islam berada pada lingkaran yang mengalami perkembangan, tetap mempertahankan suatu titik tumpu utama berupa unsur religiusitas. Filsafat Islam memiliki dua sisi yang berbeda dengan mengandalkan metode tertentu untuk membangun argumentasi resional dan berada dalam pengaruh quasi religius yang sangat dominan, baik tentang apa yang dianggap sebagai kebenaran primer maupun dalam pemilihan premis-premis silogismenya. Hal tersebut kemudian menjelaskan bahwa filsafat Islam dengan proses rasionalisasi fungsi akal (al-aql) mencoba membumikan dan mengkomunikasikan sumber keagamaan kepada nalar manusia. Suatu sikap mengintegrasikan antara unsur-unsur terbaik dalam paradigma Barat dengan wahyu berupa al-Qur’an.

No comments:

Post a Comment